Kamis, 11 Oktober 2012

Urgensi Kegiatan Sosial untuk Menumbuhkan Kepedulian antar Sesama Mahasiswa


            Jika mendengar kata sosial, pasti yang timbul di pikiran kita adalah kegiatan yang berhubungan dengan kepedulian antar sesama. Istilah sosial memang sudah sangat familiar di telinga kita. Namun, apakah praktiknya pun sudah familiar bagi kita? Bisa ya, bisa jadi tidak. Hal tersebut dikarenakan kita lebih banyak berteori tentang sosial tanpa dibarengi dengan pelaksanaannya. Sebab utamanya adalah karena kurangnya kesadaran kita akan sesama dan masih banyaknya mental individualis pada diri kita.
            Mental individualis dan kurang sadar sosial bukanlah hal yang sangat mudah untuk dihilangkan, apalagi bagi beberapa orang yang sudah sangat individualis dalam berbagai hal. Tetapi, bukan berarti mental individualis tidak bisa dihilangkan sama sekali dan bersifat permanen. Mental tersebut bisa dihilangkan sedikit demi sedikit, melalui suatu proses yang kontinu.
            Permasalahan sosial yang selama ini sering kita lihat di sekitar kita adalah kurangnya kepedulian teman-teman mahasiswa kepada sesama. Kurangnya kepedulian ini berupa kurang peduli dalam membantu sesama teman yang kesulitan dalam hal finansial maupun kurang peduli akan permasalahan yang sedang dialami oleh teman, baik itu masalah akademik, ataupun masalah-masalah pribadi lainnya yang membutuhkan suatu penyelesaian.
Realita yang sering terjadi di sekitar kita adalah sering ditemukan teman-teman di sekeliling kita mengalami kesulitan finansial hingga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tetapi, walaupun demikian tetap saja tidak ada yang tanggap akan kesulitan tersebut. Secara pribadi, penulis pun pernah melihat kondisi tersebut terjadi, terutama di lingkungan kelas penulis. Ketika itu, sebagian besar teman kelas penulis tengah sibuk membicarakan kaos kelas yang terkesan memaksakan kepada yang lain tanpa peduli apakah semua teman menerima atau malah keberatan dengan biaya pembuatan kaos tersebut.
Kenyataan yang ada, ternyata memang benar. Ada sebagian kecil yang keberatan dalam pembiayaan baju, sehingga akhirnya tidak membuat baju. Namun, tetap saja dipaksakan tanpa peduli kesulitan yang lain.
Tentunya, dari kenyataan di atas sangat terlihat betapa rendahnya tingkat kepedulian yang ada. Padahal, sebenarnya mereka paham tentang konsep sosial dalam konteks berbagi dengan sesama. Hal tersebut terbukti dari argumen-argumen yang kerap kali didengung-dengungkankan ketika beradu argumen di kegiatan kuliah kolokium ataupun responsi sosum. Namun, sangatlah disayangkan. Kepedulian itu hanya sebatas retorika semata untuk pencapaian nilai kolokium yang maksimal, bukan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.