Jika mendengar
kata sosial, pasti yang timbul di pikiran kita adalah kegiatan yang berhubungan
dengan kepedulian antar sesama. Istilah sosial memang sudah sangat familiar di
telinga kita. Namun, apakah praktiknya pun sudah familiar bagi kita? Bisa ya,
bisa jadi tidak. Hal tersebut dikarenakan kita lebih banyak berteori tentang
sosial tanpa dibarengi dengan pelaksanaannya. Sebab utamanya adalah karena
kurangnya kesadaran kita akan sesama dan masih banyaknya mental individualis
pada diri kita.
Mental individualis dan kurang sadar sosial bukanlah hal
yang sangat mudah untuk dihilangkan, apalagi bagi beberapa orang yang sudah
sangat individualis dalam berbagai hal. Tetapi, bukan berarti mental
individualis tidak bisa dihilangkan sama sekali dan bersifat permanen. Mental
tersebut bisa dihilangkan sedikit demi sedikit, melalui suatu proses yang
kontinu.
Permasalahan sosial yang selama ini sering kita lihat di
sekitar kita adalah kurangnya kepedulian teman-teman mahasiswa kepada sesama. Kurangnya
kepedulian ini berupa kurang peduli dalam membantu sesama teman yang kesulitan
dalam hal finansial maupun kurang peduli akan permasalahan yang sedang dialami oleh
teman, baik itu masalah akademik, ataupun masalah-masalah pribadi lainnya yang
membutuhkan suatu penyelesaian.
Realita
yang sering terjadi di sekitar kita adalah sering ditemukan teman-teman di
sekeliling kita mengalami kesulitan finansial hingga kesulitan memenuhi
kebutuhan sehari-harinya. Tetapi, walaupun demikian tetap saja tidak ada yang
tanggap akan kesulitan tersebut. Secara pribadi, penulis pun pernah melihat
kondisi tersebut terjadi, terutama di lingkungan kelas penulis. Ketika itu,
sebagian besar teman kelas penulis tengah sibuk membicarakan kaos kelas yang
terkesan memaksakan kepada yang lain tanpa peduli apakah semua teman menerima
atau malah keberatan dengan biaya pembuatan kaos tersebut.
Kenyataan
yang ada, ternyata memang benar. Ada sebagian kecil yang keberatan dalam
pembiayaan baju, sehingga akhirnya tidak membuat baju. Namun, tetap saja
dipaksakan tanpa peduli kesulitan yang lain.
Tentunya,
dari kenyataan di atas sangat terlihat betapa rendahnya tingkat kepedulian yang
ada. Padahal, sebenarnya mereka paham tentang konsep sosial dalam konteks
berbagi dengan sesama. Hal tersebut terbukti dari argumen-argumen yang kerap
kali didengung-dengungkankan ketika beradu argumen di kegiatan kuliah kolokium
ataupun responsi sosum. Namun, sangatlah disayangkan. Kepedulian itu hanya
sebatas retorika semata untuk pencapaian nilai kolokium yang maksimal, bukan
untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.